1 / 42

PENGELOLAAN PESISIR DAN LAUTAN ( BDI 315 ) Pedoman P engelolaan W ilayah P esisir dan L aut an

PENGELOLAAN PESISIR DAN LAUTAN ( BDI 315 ) Pedoman P engelolaan W ilayah P esisir dan L aut an. Abdullah Aman Damai. P ENGELOLAAN EKOSISTEM W ILAYAH P ESISIR DAN L AUT AN. Terumbu Karang. Dampak Kegiatan Manusia terhadap Ekosistem Terumbu Karang. Terumbu Karang Teluk Lampung

Download Presentation

PENGELOLAAN PESISIR DAN LAUTAN ( BDI 315 ) Pedoman P engelolaan W ilayah P esisir dan L aut an

An Image/Link below is provided (as is) to download presentation Download Policy: Content on the Website is provided to you AS IS for your information and personal use and may not be sold / licensed / shared on other websites without getting consent from its author. Content is provided to you AS IS for your information and personal use only. Download presentation by click this link. While downloading, if for some reason you are not able to download a presentation, the publisher may have deleted the file from their server. During download, if you can't get a presentation, the file might be deleted by the publisher.

E N D

Presentation Transcript


  1. PENGELOLAAN PESISIR DAN LAUTAN (BDI 315) Pedoman Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Lautan Abdullah Aman Damai

  2. PENGELOLAAN EKOSISTEM WILAYAH PESISIR DAN LAUTAN

  3. Terumbu Karang Dampak Kegiatan Manusia terhadap Ekosistem Terumbu Karang

  4. Terumbu Karang Teluk Lampung Sumber: Dinas Kelautan dan Perikanan Prov. Lampung (2011)

  5. PEDOMAN PENGELOLAAN EKOSISTEM TERUMBU KARANG: • Menggunakan sumber alternatif bahan konstruksi kapur, tidak dari terumbu karang. • Tidak melakukan pengerukan di arah hulu dari terumbu karang; dan/atau lakukan upaya misalnya penyaringan sedimen. • Hindarkan pencemaran dan peningkatan nutrien ke dalam ekosistem terumbu karang. • Hentikan penggunaan bahan peledak dan bahan beracun sebagai alat tangkap. • Tetapkan kuota pemanfaatan tahunan terhadap bahan-bahan karang dan spesies asosiasi. • Promosikan dan kontrol kegiatan pariwisata. • Hindari pembuangan limbah. • Hindari perubahan suhu di luar ambang batas. • Memantau perkembangan kondisi terumbu karang. • Penyadaran masyarakat tentang pentingnya ekosistem terumbu karang dan kelestariannya. • Melakukan rehabilitasi terumbu karang.

  6. Hutan Mangrove Dampak Kegiatan Manusia terhadap Ekosistem Mangrove

  7. Tegakan Mangrove Sumatera Selatan dan Papua Sumber: A.A. Damai (2012)

  8. PEDOMAN PENGELOLAAN EKOSISTEM MANGROVE: • Peliharalah dasar dan karakter substrat hutan dan saluran-saluran air. • Jaga kelangsungan pola-pola alamiah; skema aktivitas siklus pasang surut serta limpasan air tawar. Untuk struktur pesisir harus didesain tetap memelihara pola tersebut. • Menjaga pola-pola temporal dan spasial alami dari salinitas air permukaan dan air tanah. • Peliharalah keseimbangan alamiah antara pertambahan tanah, erosi dan sedimentasi. • Tetapkan batas maksimum panen, untuk menjamin keberlanjutan (kesinambungan) ekosistem. • Pada daerah-daerah yang mungkin terkena tumpahan minyak dan bahan beracun lainnya, harus memiliki rencana-rencana penanggulangan. • Hindarkan semua kegiatan yang mengakibatkan pengurangan (impound) areal mangrove, penghentian sirkulasi air permukaan mengakibatkan kematian hutan mangrove.

  9. Padang Lamun Dampak Kegiatan Manusia terhadap Ekosistem Lamun

  10. PEDOMAN PENGELOLAAN EKOSISTEM LAMUN: • Pengerukan dan penimbunan harus menghaindari lokasi yang didominasi oleh padang lamun. • Pembangunan struktur di wilayah pesisir (seperti pelabuhan, dermaga/ jetty) harus didesain meminimalkan erosi atau penumpukan. • Perbaikan prosedur pembuangan limbah cair untuk mencegah rusaknya padang lamun. • Penggunaan trawl dan penangkapan yang merusak seharusnya dilarang atau dimodifikasi. • Skema-skema pengalihan aliran air yang dapat mengubah tingkat sali-nitas alamiah harus dipertimbangkan. • Cegah tumpahan minyak mencemari komunitas padang lamun. • Inventarisasi, identifikasi dan pemetaan sumber daya padang lamun. • Rekonstruksi padang lamun di perairan dekat tempat yang sebelumnya ada padang lamun, atau membangun padang lamun baru.

  11. Estuaria Dampak Kegiatan Manusia terhadap Ekosistem Estuaria • Salah satu penyebab utama terjadinya degradasi ekosistem estuaria adalah akibat penggunaannya sebagai daerah pembuangan limbah secara terus menerus. • Meningkatnya penggunaan perairan sebagai sarana pengangkutan minyak, bahan-bahan kimia dan berbagai jenis bahan beracun lainnya, baik melalui kapal, bargas jaringan pipa penyaluran, atau pun kereta api menimbulkan ancaman. • Perubahan beberapa sistem DAS perairan pesisir, akan mengganggu ekosistem dan tingkat bahaya banjir. • Kebanyakan organisme estuaria rentan, karena hidup di dekat batas toleransinya. • Di daerah industri, perkotaan atau padat penduduk, estuaria sangat terancam keberlanjutannya, karena sedimentasi yang berlebihan, perubahan pola aliran dan regim salinitas, pencemaran ataupun over eksploitasi sumber daya alam.

  12. Estuaria di Delta Mahakam dan Papua Sumber: A.A. Damai (2012)

  13. PEDOMAN PENGELOLAAN EKOSISTEM ESTUARIA: • Penerapan teknologi secara maksimal dari pengolahan limbah, baik untuk limbah industri maupun limbah domestik. Alternatif lainnya, yaitu limbah sesekali dipompa ke perairan lepas pantai dan disebarkan secara aman ke perairan samudera yang lebih dalam. • Fasilitas industi yang berpotensi tinggi mengganggu ekosistem, mestinya dijauhkan dari daerah tersebut (melalui penataan ruang). • Pemantauan berkala limpasan air akibat hujan lebat dan sumber-sumber polusi lainnya. • Menghindari terhambatnya sirkulasi air, struktur yang dibangun harus didesain sedemikian rupa sehingga tidak mengganggu aliran air. • Seleksi lokasi untuk pembuangan atau penyimpanan hasil kerukan untuk menghindari efek negatif di daerah habitat penting.

  14. PENGELOLAAN SEKTORAL DI WILAYAH PESISIR DAN LAUTAN

  15. SEKTOR-SEKTOR DI WILAYAH PESISIR: • Kehutanan • Pertanian • Akuakultur • Perikanan Tangkap • Permukiman dan Perkotaan • Pariwisata dan Rekreasi • Pertambangan dan Energi • Pembuangan Limbah Padat • Pembuangan Limbah Cair dan Septic Tank • Jalan Raya, Jembatan, dan Bandara • Alur Pelayaran dan Pelabuhan

  16. SEKTOR KEHUTANAN: • Pelestarian biodiversitas • Pengendalian erosi, pada HPH dan HTI • Penetapan zona penyangga, paling tidak dengan ketebalan L = 130.p • SEKTOR PERTANIAN: • Konservasi Tanah dan Air • Pemupukan Tepat dan Ramah Lingkungan • Pengendalian pestisida • Proteksi daerah bernilai koservasi tinggi • Pembuatan Zona Penyangga

  17. Eksploitasi Hutan di Pesisir Sumatera Selatan Sumber: A.A. Damai (2012)

  18. Aquakultur: • Penyediaan saluran irigasi khusus tambak • Pengendaliuan sedimentasi dan abrasi • Pengendalian hama • Pengendalian pemupukan dan petisida • Perikanan Tangkap: offshore, coastal, dan inland fisheries • Mencegah penurunan klualitas perairan pesisir • Pengendalian reklamasi rawa dan pembuangan sampah/limbah • Mencegah dan mengendalikan penambangan karang, penggunaan racun dan peledak. • Pengaturan penggunaan alat tangkap (fishing gear) yang sesuai. • Pengendalian erosi dari daratan da abrasi pesisir • Mengendalikan IUU (illegal, unreported, unregulated) perikanan tangkap.

  19. Tambak dan Perikanan Tangkap di Lampung Sumber: A.A. Damai (2012)

  20. Permukiman dan Perkotaan: • Mengendalikan tekanan daerah vital • Pengelolaan aliran permukaan • Pengelolaan daerah banjir • Mengendalikan pengerukan dan pengurugan • Pariwisata dan Rekreasi: • Penempatan lokasi wisata dan penunjangnya pada high rate of flushing. • Pengelolaan sirkulasi air • Pengendalian limbah • Pengendalian perubahan garis pantai • Pengendalian aktivitas wisata secara ketat pada kawasan lindung (seperti taman nasional, dll)

  21. Permukiman dan Perkotaan di Lampung Sumber: A.A. Damai (2012)

  22. Pertambangan dan Energi: • Pencegahan pencemaran • Penempatan lokasi di luar surf zone • Pengendalian tambang ekstraksi (dredge and strip mining) • Penempatan lokasi dan operasional industri pemurnian bahan tertambang secara tepat • Pembuangan Limbah Padat: • Melindungi daerah vital dari dampak pembuangan. • Mencegah pencemaran tanah dan air; landfill minimal 0,3 km dari air permukaan, dan 1,6 km dari sumur

  23. Pembuangan Limbah Cair (sewage) dan septic tank: • Melindungi daerah vital dari dampak pembuangan • Dibagi dengan land application • Mengembangkan marine outfall yang aman • Pengolahan selektif • Desain dan pembangunan septic tank yang ramah lingkungan • Penempatan lokasi septic tank yang aman • Jalan Raya, Jembatan, dan Bandara: • Menghindari daerah vital, seperti sand dune • Desain site specific daerah pesisir

  24. Bandara, Jalan Raya, Pelabuhan Sumber: A.A. Damai (2012)

  25. AlurPelayarandanPelabuhan: • Penentuanalurpelayaransehinggamenghindari habitat lindung. • Lebaralurdisesuaikandengankebutuhan • Pengelolaankonstruksialurdanpelabuhansecarabenar, temasukaktivitaspengerukandandumping (alatdanlokasi) yang layak • Penetapandaerahpelabuhan yang tepat

  26. PENGELOLAAN PESISIR DAN LAUTAN (BDI 315) PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DAN PENGEMBANGAN KELEMBAGAAN Abdullah Aman Damai

  27. PERMASALAHAN SOSIAL DALAM PENGELOLAAN SUMBERDAYA PESISIR DAN LAUTAN

  28. SEKTOR UTAMA DALAM PENGELOLAAN • SUMBERDAYA WILAYAH PESISIR DAN LAUTAN • SECARA TERPADU (PWPLT): • Pariwista • Perikanan • Pertambangan dan Energi (terutama Migas) • Kehutanan • Perhubungan Laut • Pembangunan Regional (Reklamasi) • Perdagangan

  29. Aktivitas di Pesisir Beberapa Daerah di Indonesia Sumber: A.A. Damai (2012)

  30. Akar Masalah dalam PWPLT, terjadi kompetisi antar • dan intra-sektor, yang dapat berujung konflik: • Para pihak menyusun strategi secara terpisah • Belum jelasnya pembagian wewenang • Belum ada instansi tersendiri atau koordinasi khusus • Belum tersedianya data dan informasi akurat; • Kapasitas aparatur dan kelembagaan; • Pembangunan belum didasarkan pada daya dukung • Pesatnya degradasi dan deplesi sumberdaya • Belum tegas batas pengelolaan antar wilayah.

  31. Karakteristik ideal PWPLT: • Mempunyaibatasfisik yang jelas (untukperencanaandanmanajemenkeseharian) • Bertujuanuntukmeminimalkankonflikkepentingandankonflikpemanfaatansumberdaya • Merupakanproses yang terus-menerusdalamjangkapanjang. • Didasarkanpadakarakteristikdandinamikatermasukketerkaitanekologis, biogeofisik, sosial-ekonomi-budayadanpolitik. • Menggunakanpendekataninterdisiplinkeilmuan: ekologi, eko-nomi, keteknikan (engineering), sosiologi, danlainnya. • Adatatanankelembagaan yang khususmenanganipengelolaankawasanpesisir, terutamauntukmengamankantahapperencanaandanpemantauansertaevaluasi.

  32. Kondisi Pesisir di Papua dan Cilacap Sumber: A.A. Damai (2012)

  33. Kerangka Program Pelaksanaan PWPLT

  34. Sumber: Crawford et al. (1995, dalam Dahuri et al., 2008)

  35. PENGEMBANGAN KELEMBAGAAN DALAM PWPLT

  36. Kelembagaan sebagai institusi dikembangkan melalui: • Peningkatan kemampuan aparatur dan memobilisasi tenaga • Penyediaan fasilitas yang layak • Penyediaan dana operasional, pemeliharaan, dan pembangunan

  37. Koordinasi, Sosialisasi, dan Masyarakat Pesisir Sumber: A.A. Damai (2012)

  38. Pelembagaan nilai-nilai ke masyarakat, meliputi: • Peraturan perundang-undangan • Peraturan daerah • Penataan ruang wilayah pesisir dan lautan • Pedoman umum perencanaan • Revitalisasi kearifan lokal • dll

  39. Peningkatan Kemampuan Aparatur dan SDM, melalui proyek-proyek antara lain • Beasiswa pendidikan ke berbagai universitas • Marine Resources and Evaluation Planning (MREP) • Coral Reef Rehabilitation and Management Project (COREMAP) • Coastal Resource Management Project (CRMP) • Marine and Coastal Resource Management Project (MCRMP) • dll

  40. Pelatihan bagi Masyarakat, ditujukan agar masyarakat dapat berperan aktif dalam PWPLT, namun tetap mendapatkan manfaat ekonomi dari sumberdaya tersebut. • Pegembangan marikultur • Membuat dan memelihara rumpon • Membuat terumbu karang buatan • Pengembangan keramba jaring apung • Pengembangan wisata bahari • dll

  41. Melengkapi peraturan perundangan dan perangkat operasionalnya, sosialisasi, diseminasi, dan implementasi. Antara lain Undang-Undang: • UU No. 5 Tahun 1990 Tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya • UU No. 5 Tahun 1994 Tentang Ratifikasi Konvensi PBB Tentang Keanekaragaman Hayati • UU No. 41 Tahun 1999 Tentang Kehutanan • UU No. 22 Tahun 2001 Tentang Minyak dan Gas Bumi • UU No. 26 Tahun 2007 Tentang Penataan Ruang • UU No. 27 Tahun 2007 Tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil • UU No. 17 Tahun 2008 Tentang Pelayaran • UU No. 18 Tahun 2008 Tentang Persampahan • UU No. 4 Tahun 2009 Tentang Pertambangan Mineral dan Batu Bara • UU No. 32 Tahun 2009 Tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup • UU No. 45 Tahun 2009 Tentang Perubahan Atas UU No. 31 Tahun 2004 Tentang Perikanan

  42. Terima Kasih A.A. Damai 2012 damaisasa@yahoo.com 08129483572

More Related