1 / 27

Asuhan Keperawatan Xerophthalmia pada Anak

Asuhan Keperawatan Xerophthalmia pada Anak. Disusun Oleh YUNUS MUSTOFA. Definisi.

chipo
Download Presentation

Asuhan Keperawatan Xerophthalmia pada Anak

An Image/Link below is provided (as is) to download presentation Download Policy: Content on the Website is provided to you AS IS for your information and personal use and may not be sold / licensed / shared on other websites without getting consent from its author. Content is provided to you AS IS for your information and personal use only. Download presentation by click this link. While downloading, if for some reason you are not able to download a presentation, the publisher may have deleted the file from their server. During download, if you can't get a presentation, the file might be deleted by the publisher.

E N D

Presentation Transcript


  1. Asuhan Keperawatan Xerophthalmia pada Anak Disusun Oleh YUNUS MUSTOFA

  2. Definisi Xerophthalmia adalah kelainan mata akibat kekurang vitamin A. Sebelum terdeteksi menderita xeropthalmia, biasanya penderita akan mengalami buta senja. Gejala xeropthalmia terlihat pada kekeringan pada selaput lendir (konjungtiva) dan selaput bening (kornea) mata. Kekeringan berlarut-larut menyebabkan konjungtiva menebal, berlipat-lipat, dan berkerut. Selanjutnya pada konjungtiva akan tampak bercak putih seperti busa sabun (bercak Bitot).

  3. Etiologi Xeroftalmia disebabkan oleh kekurangan vitamin A yang dipicu oleh kondisi gizi kurang atau buruk. Kerap terjadi pada bayi lahir berat badan rendah, gangguan akibat kurang yodium (GAKY) serta anemia gizi ibu hamil. Kelompok rentan xeroftalmia adalah anak dari keluarga miskin, anak di pengungsian, anak di daerah yang pangan sumber vitamin A kurang, anak kurang gizi atau lahir dengan berat badan rendah, anak yang sering menderita penyakit infeksi (campak, diare, tuberkulosis, pneumonia) serta cacingan serta anak yang tidak mendapat imunisasi serta kapsul vitamin A dosis tinggi.

  4. Lanjutan... Faktor yang menjadi penyebab tingginya kasus Xeroftalmia di Indonesia adalah : a. Konsumsi makanan yang kurang / tidak mengandung cukup Vitamin A atau pro vitamin A untuk jangka waktu lama. b. Bayi tidak mendapatkan ASI Eksklusif. c. Gangguan penyerapan vitamin A. d. Tingginya angka infeksi pada anak (gastroenteritis/diare).

  5. Tanda dan Gejala Kurang vitamin A (KVA) adalah kelainan sistemik yang mempengaruhi jaringan epitel dari organ-organ seluruh tubuh, termasuk paru-paru, usus, mata dan organ lain, akan tetapi gambaran yang karakteristik langsung terlihat pada mata. Tanda  dan  gejala  klinis  KVA  pada  mata  menurut  klasifikasi WHO / USAID UNICEF / HKI / IVACG, 1996 sebagai berikut : • XN : buta senja (hemeralopia, nyctalopia) • XIA : xerosis konjungtiva • XIB : xerosis konjungtiva disertai bercak bitot

  6. Lanjutan... Faktor yang mempengaruhi Terjadinya Xerophthalmia : 1. Faktor sosial budaya dan lingkungan dan pelayanan kesehatan 2. Faktor keluarga 3. Faktor Individu

  7. Patofisiologi • Terjadinya defisiensi vitamin A berkaitan dengan berbagai faktor dalam hubungan yang komplek seperti halnya dengan masalah KKP. Makanan yang rendah dalam vitamin A biasanya juga rendah dalam protein, lemak dan hubungannya antar hal-hal ini merupakan faktor penting dalam terjadinya defisiensi vitamin A. • Vitamin A merupakan “body regulators” dan berhubungan erat dengan proses-proses metabolisme. Secara umum fungsi tersebut dapat dibagi dua (i) Yang berhubungan dengan penglihatan dan (ii) Yang tidak berhubungan dengan penglihatan.Fungsi yang berhubungan dengan penglihatan dijelaskan melalui mekanisme Rods yang ada di retina yang sensitif terhadap cahaya dengan intensitas yang rendah, sedang Cones untuk cahaya dengan intensitas yang tinggi dan untuk menangkap cahaya berwarna. Pigment yang sensitif terhadap cahaya dari Rods disebut sebagai Rhodopsin, yang merupakan kombinasi dari Retinal dan protein opsin. Ada dua macam sel reseptor pada retina, yaitu sel kerucut (sel konus) dan sel batang (sel basilus). Sel konus berisi pigmen lembayung dan sel batang berisi pigmen ungu.

  8. Patogenesis xeroftalmia terjadi secara bertahap ; 1. Buta senja (XN) 2. Xerosis konjungtiva (X1A) 3. Xerosis konjungtiva dan bercak bitot (X1B) 4. Xerosis kornea (X2) 5. Keratomalasia dan ulserasi kornea (X3A/ X3B) 6. Xeroftalmia Scars (XS)

  9. Pencegahan Xerofthalmia • 1. Mengenal tanda-tanda kelainan secara dini • 2. Bagi yang memiliki bayi dan anak disarankan untuk mengkonsumsi vitamin A dosis tinggi secara periodik, yang didapatkan umumnya pada Posyandu terdekat. • 3. Segera mengobati penyakit penyebab atau penyerta • 4. Meningkatkan status gizi, mengobati gizi buruk  • 5. Memberikan ASI Eksklusif  • 6. Ibu nifas mengkonsumsi vitamin A (<30 hari) 200.000 SI • 7. Melakukan Imunisasi dasar pada setiap bayi

  10. Pengobatan a. Berikan 200.000 IU Vitamin A secara oral atau 100.000 IU Vitamin A injeksi. b.  Hari berikutnya, berikan 200.000 IU Vitamin A secara oral c.  1 – 2 minggu berikutnya, berikan 200.000 IU Vitamin A secara oral d.  Obati penyakit infeksi yang menyertai e.  Obati kelainan mata, bila terjadi f.  Perbaiki status gizi

  11. Pemeriksaan fisik : Dilakukan untuk mengetahui tanda-tanda atau gejala klinis dan menentukandiagnosis serta pengobatannya, terdiri dari : a. Pemeriksaan umum Dilakukan untuk mengetahui adanya penyakit-penyakit yang terkait langsungmaupun tidak langsung dengan timbulnya xeroftalmia seperti gizi buruk, penyakit infeksi, dan kelainan fungsi hati. b. Pemeriksaan Khusus Pemeriksaan mata untuk melihat tanda Xeroftalmia dengan menggunakansenter yang terang. (Bila ada, menggunakan loop.)

  12. Pemeriksaan Laboratorium Pemeriksaan  laboratorium  dilakukan  untuk  mendukung  diagnose kekurangan vitamin A, bila secara klinis tidak ditemukan tanda-tanda khasKVA, namun hasil pemeriksaan lain menunjukkan bahwa anak tersebutrisiko tinggi untuk menderita KVA. Peneriksaan yang dianjurkan adalah pemeriksaan serum retinol. Biladitemukan serum retinol < 20 ug/dl, berarti anak tersebut menderita KVAsub klinis. Pemeriksaan laboratorium lain dapat dilakukan untuk mengetahuipenyakit lain yang dapat memperparah seperti pada : • pemeriksaan darah malaria • pemeriksaan darah lengkap • pemeriksaan fungsi hati • pemeriksaan  radiologi  untuk  mengetahui  apakah  ada pneumonia atau TBC • pemeriksaan tinja untuk mengetahui apakah ada infeksi cacingserta • pemeriksaan darah yang diperlukan untuk diagnosa penyakit penyerta.

  13. Pathway Defisiensi Vit A Kekeringan pada Retina Resiko tinggi terhadap cedera Perubahan Penglihatan pada senja hari Impuls yang masuk tidak ditangkap dengan baik oleh retina dan diteruskan ke saraf Optik Ancietas Gangguan adaptasi gelap Ancaman kehidupan Gangguan sensori Persepsi Penglihatan

  14. Asuhan Keperawatan Pengkajian 1. Biodata pasien a. Identitas Pasien • Nama anak • Umur anak • Jenis kelamin • Jumlah anak dalam keluarga • Jumlah anak balita dalam keluarga • Anak ke berapa • Berat Lahir : Normal / BBLR b. Identitas Penanggung Jawab • Nama ayah / ibu • Alamat/tempat tinggal • Pendidikan • Pekerjaan • Status Perkawinan

  15. Lanjutan ... 2. Keluhan Penderita a. Keluhan Utama Pasien akan mengeluh biasanya penglihatan rabun atau Ibu mengeluh anaknya tidak bisa melihat pada sore hari (buta senja) atau ada kelainan  pada  matanya.  Kadang -kadang  keluhan  utama  tidak berhubungan dengan kelainan pada mata seperti demam. b. Keluhan Tambahan • Tanyakan keluhan lain pada mata tersebut dan kapan terjadinya? • Upaya apa yang telah dilakukan untuk pengobatannya ? 3. Riwayat Penyakit yang diderita sebelumnya 4. Riwayat Kesehatan Keluarga 5. Riwayat Tumbuh kembang 6. Riwayat Imunisasi 7. Riwayat nutrisi

  16. Lanjutan ... 8. Dampak Hospitalisasi 9. Riwayat Pola makan anak 10. Aktivitas / Istirahat 11. Neurosensori 12. Nyeri / kenyamanan 13. Integritas Ego 14. Interaksi Sosial 15. Pemeriksaan Diagnostik

  17. Lanjutan ... Pengelompokan Data A. Data subjektif • Keluhan perubahan pengelihatan pada senja hari • Perubahan respon biasanya terhadap rangsangan • Tidak bisa memfokuskan kerja dengan dekat • Tidak suka mengkonsumsi sayur-sayuran dan buah • Ketidaknyamanan ringan / mata kering • Cemas,marah, defresi, ketakutan dan ragu-ragu • Perasaan kesepian • Ketidaknyamanan dalam situasi sosial

  18. Lanjutan ... B. Data Objektif  • Kekeringan pada konjungtiva bulbi • Bagian mata putih timbul bercak seperti buih sabun, kering, kusam,tegang dan keriput. • Bagian mata hitam menjadi kering, kusam, keruh, keriput dan timbul bercak yang mrngganggu pengelihatan • Peningkatan kepekatan atau kegelisahan • Isolasi dan penolakan • Ketidak inginan terhadap kontak lebih banyak dengan orang lain • Kontak mata buruk 

  19. Analisa Data

  20. Diagnosa dan Intervensi 1. Gangguan sensori –persepsi penglihatan b/d - gangguan penerimaan sensori/status organ indra. Ditandai dengan : -   menurunnya ketajaman , gangguan penglihatan -  perubahan respons biasanya terhadap rangsang Plaining Tujuan : sensori-perseptual : penglihatan tidak mengalami perubahan. dengan kriteria : -   meningkatnya ketajaman penglihatan dalam batas situasi individu -  mengenal gangguan sensori dan berkompensasi terhadap perubahan - mengidentifikasi / memperbaiki potensial bahaya dalm linkungan.

  21. Lanjutan ... Intervensi atau tindakan 1. Kaji ketajaman penglihatan R/ untuk mengetahui ketajaman penglihatan klien dan member penglihatan menurut ukuran yang baku.  2. Dorong klien mengekspresikan perasaan tentang kehilangan atau kemungkinan kehilangan penglihatan.  R/ sementara  intervensi  dini  mencegah  kebutaan,  pasien menghadapi  kemungkinan  kehilangan  penglihatan  sebagian  atautotal.meskipun  kehilangan  penglihatan  telah  terjadi  tidak  dapatdiperbaiki meskipun dengan pengobatan kehilangan lanjut dapat dicegah.  3. Lakukan tindakan untuk membantu klien menangani keterbatasan penglihatan. Contoh: kurangi kekacauan, atur perabot, perbaiki sinar yang suram dan masalah penglihatan malam. R/ menurunkan bahaya keamanan sehubungan dengan perubahan lapang  pandang  atau  kehilangan  penglihatan  dan  akomodasi  pupil terhadap sinar lingkungan.  4. Kolaborasi a. Test adaptasi gelap R/ untuk mengetahui adanya kelainan atau abnormalitas dari fungsi penglihatan klien. b. Pemeriksaan kadar vitamin A dalam darah. R/ untuk mengetahui keadaan defisiensi keadaan vitamin Adalama darah sebagai pemicu terjadinya penyakit xeroftalmia. c. Pemberian obat sesuai indikasi : Pemberian vitamin A dalam dosis terapeutik yaitu vitamin Aoral 50.000 – 75.000 IU/kg BB tidak lebih dari 400.000 -500.000 IU. R/ pemberian vitamin A dosis terapeutik dapat mengatasi gangguan penglihatan tahap dini. Dengan memberikan dosis vitamin  secara  teratur  dapat  mengembalikan  perubahan penglihatan pada mata. 

  22. Lanjutan ... 2. Resiko tinggi terhadap cedera b / d keterbatasan penglihatan. Ditandai dengan : -  mata hitam menjadi  kering,kusam, keruh, keriput, dan timbul bercak yangmengganggu penglihatan. -    keluhan penglihatan pada senja hari Planning Tujuan : cedera tidak terjadi Dengan kriteria: - klien  dapat  mengidentifikasi  potensial  bahaya  dalam lingkungan. Intervensi / tindakan 1. Orientasikan klien dengan lingkungan sekitarnya. R/ meningkatkan pengenalan terhadap lingkungannya. 2. Anjurkan keluarga untuk tidak memberikan mainan kepada klien yang mudah pecah seperti kaca dan benda-benda tajam. R/ menghindari pecahnya alat mainan yang dapat mencederai klien atas benda tajam yang dapat melukai klien. 3. Arahkan semua alat mainan yang dibutuhkan klien pada tempat yang sentral dari pandangan klien. R/ memfokuskan lapang pandang dan menghindari cedera.

  23. Lanjutan ... 3. Ansietas b / d faktor fisiologis. Ditandai dengan : - Perubahan status kesehatan: kemungkinan/kenyataan - Kehilangan penglihatan Planning Tujuan:  klien  akan  mengungkapkan  bahwa  kecemasan  sudahberkurang / hilang Dengan kriteria : - Tampak rileks dan melaporkan ansietas menurun sampai tingkat dapatdiatasi - Menunjukkan keterampilan pemecahan masalah - Menggunakan sumber secara efektif 

  24. Lanjutan ... Intervensi / Tindakan 1. Kaji tingkat ansietas, timbulnya gejala tiba-tiba dan pengetahuan kondisi saat ini. R/ faktor ini mempengaruhi persepsi pasien terhadap ancaman diri, potensial siklus ansietas dan dapat mempengaruhi upaya medicuntuk mengontrol terapi yang diberikan. 2. Berikan informasi yang akurat dan jujur. Diskusikan kemungkinan bahwa pengawasan dan pengobatan dapat mencegah kehilangan penglihatan tambahan. R/ menurunkan  ansietas  sehubungan  denganketidaktahuan / harapan yang akan dating dan berikan dasar fakta untuk membuat pilihan informasi tentang pengobatan. 3. Dorong pasien untuk mengakui masalah dan mengekspresikanperasaan. R/  memberikan  kesempatan  untuk  pasien  menerima  situasinyata, mengkelarifikasi salah konsepsi dan pemecahan masalah. 4. Identifikasi sumber/orang yang menolong. R/  meberikan  keyakinan  bahwa pasien  tidak  sendiri  dalammenghadapi maslah.

  25. Implementasi Keperawatan Implementasi keperawatan sesuai dengan intervensi.

  26. Evaluasi Keperawatan a . Ketajaman penglihatan klien dalam batas normal. b.  Klien  dapat  mengenal  gangguan  sensori dan  berkompensasi  terhadap perubahan. c. Klien dapat memperbaiki potensial bahaya dalam lingkungan. d. Klien dapat menyatakan pemahaman faktor yang terlibat dalam kemungkinan cedera. e. Klien dapat menyatakan pemahaman kondisi atau proses penyakit dan pengobatan.

  27. SEKIAN Terima Kasih

More Related