1 / 27

Bahasa untuk Penelitian Ilmiah

Bahasa untuk Penelitian Ilmiah. BAHASA UNTUK PENULISAN ILMIAH - 8 -. Ragam Bahasa yang Dipakai. Ragam bahasa dalam laras ilmiah atau ilmu pengetahuan menggunakan ragam formal atau ragam standard. Mempunyai kata-kata yang baku.

terena
Download Presentation

Bahasa untuk Penelitian Ilmiah

An Image/Link below is provided (as is) to download presentation Download Policy: Content on the Website is provided to you AS IS for your information and personal use and may not be sold / licensed / shared on other websites without getting consent from its author. Content is provided to you AS IS for your information and personal use only. Download presentation by click this link. While downloading, if for some reason you are not able to download a presentation, the publisher may have deleted the file from their server. During download, if you can't get a presentation, the file might be deleted by the publisher.

E N D

Presentation Transcript


  1. Bahasa untuk Penelitian Ilmiah BAHASA UNTUK PENULISAN ILMIAH - 8 -

  2. Ragam Bahasa yang Dipakai • Ragam bahasa dalam laras ilmiah atau ilmu pengetahuan menggunakan ragam formal atauragam standard. • Mempunyai kata-kata yang baku. • Ragam bahasa standard dapat menyampaikan ilmu pengetahuan dengan baik kepada pembaca.

  3. Jenis Ragam Ilmiah:ragam lisan dan ragam tulis. Ragam lisan adalah bahasa yang diujarkan oleh pemakai bahasa baik ragam lisan yang formal maupun ragam lisan yang nonformal. Ragam tulis adalah bahasa yang dituliskan atau yang dicetak untuk menyampaikan karya.

  4. Ragam Tulis Ilmiah Jenis Ragam tulis: 1. Formal 2. Nonformal. 3. Ragam tulis dan lisan yang semiformal. Artinya, tidak terlalu formal dan tidak pula terlalu nonformal.

  5. Pemakaian Ragam Lisan dan Ragam Tulis Pemakaian ragan lisan dan ragam tulis 1. Tak jarang kita dengar paradigma-paradigma masyarakat yang menjatuhkanharga diri seorang perawat. 2. Perawat yang begitu mengerti dengan pasiennya. Tapi pasien selalu menomor duakan perawat dari dokter Kalimat 1 Kata tak tidak dapat digunakan dalam ragam ilmiah formal karena dia ragam lisan. Kata tak sebaiknya diganti dengan kata tidak. 1. Tidak jarang kita mendengar paradigma-paradigma masyarakat yang menjatuhharga diri seorang perawat. Atau 2 . Kita sering mendengar paradigma-paradigma masyarakat yang menjatuhkanharga diri seorang perawat.

  6. Kalimat 2 Kata hubung (konjungsi) tapi juga tidak dapat dipakai dalam ragam tulis. Kata tersebut sering digantikan oleh kata tetapi atau akan tetapi. Kata konjungsi tetapi dipakai untuk menyatakan kata hubung antarklausa. Namun, konjungsi akan tetapi dipakai untuk menyatakan hubungan antarkalimat. • 2. Perawat adalah orang yang sangat mengerti dengan pasiennya. Akan tetapi, pasien selalu menomorduakan perawat daripada dokter.

  7. Pembedaan ragam formal, nonformal, dan semiformal Perbedaan ini berdasarkan: 1. Topik yang sedang dibahas 2. Hubungan antarpembicara 3. Medium yang digunakan 4. Lingkungan 5. Situasi saat pembicaraan terjadi

  8. lima ciri pembeda ragam formal dari ragam nonformal. 1. Penggunaan kata sapaan dan kata ganti 2. Penggunaan kata tertentu 3. Penggunaan imbuhan 4. Penggunaan kata sambung (konjungsi) dan kata depan (preposisi) 5. Penggunaan fungsi yang lengkap

  9. Bahasa dalam Karya Ilmiah Bahasa yang dipakai dalam karya tulis ilmiah adalah bahasa yang komunikatif: 1. Bahasa lisan digunakan ketika persentasi 2. Bahasa tulis yang dipakai dengan menggunakan kalimat efektif.

  10. Kalimat Efektif dalam Karya Ilmiah • Bahasanya baku atau standar. • Sebuah bahasa dikatakan baku atau standar, dia harus dibangun dari kata-kata yang baku dan kalimatnya efektif. • Kalimat efektif adalah kalimat yang baik dan jelas, dapat secara tepat mewakili pikiran penulis atau pembicara. • Syarat Kalimat Efektif: 1. struktur, 2. ketatabahasaan, • kesejajaran, 4. kelogisan, • kohesi dan koherensi, 6.kesatuan, • ketidakambiguan, 8. ketepatan, 9. Ejaan Yang Disempurnakan (EYD).

  11. 1. Mempunyai struktur yang baku S.P. (O), (K), (Pel) Struktur kalimat: subjek (S) dan predikat (P), sedangkan objek (O), keterangan (K), dan pelengkap (Pel). Contoh: 1. Perkembangan fisik-biologis pada remaja yang ditandai dengan kematangan hormon didalam tubuh remaja sehingga mempengaruhi kematangan sehingga munculnya dorongan-dorongan seksual seperti mulai tertarik dengan lawan jenis. Kalimat 1 dua klausa: klausa pertama terdiri dari satu frase sebagai induk kalimat dan klausa kedua sebagai anak kalimat. Klausa pertama hanya terdiri dari satu frase karena pemakaian kata hubung yang. Perbaikannnya: Perkembangan fisik-biologis pada remaja ditandai dengan kematangan hormon di dalam tubuh remaja yang sangat berpengaruh terhadap kematangan sehingga munculnya dorongan-dorongan seksual seperti mulai tertarik dengan lawan jenis.

  12. 2. Pada penelitian yang dilakukan Soeleman M. di RS. M. Djamil Padang tahun 2000 dan juga penelitian Syahrial HAR pada rumah sakit yang sama tahun 1990 yang mendapat indikasi terbanyak pada partus lama. • Kalimat kedua adalah kalimat yang memiliki kata-kata yang panjang. Namun, dia hanya berpola subjek saja. Hal ini terjadi karena pengaruh kata yang, yaitu pada kata yang mendapat. Akhirnya, predikatnya menjadi hilang. Redaksi kalimat tersebut harus diperbaiki: 2. Pada penelitian yang dilakukan Soeleman M. di RS. M. Djamil Padang tahun 2000 dan juga penelitian Syahrial HAR pada rumah sakit yang sama tahun 1990 mendapat indikasi terbanyak pada partus lama.

  13. 2. Ketatabahsaan Kalimat yang sesuai dengan tata bahasa adalah bagaimana kalimat itu memenuhi kaidah tentang struktur gramatikal bahasa. Contoh 1. Dokter di rumah sakit itu membawahi beberapa orang perawat. Pemakaian kata membawahi dalamkalimat kurang tepat karena membawahi adalah menempatkan posisi dokter di bawah perawat. Kata yang paling tepat dipakai untuk menggantikan kata tersebut adalah membawahkan. Kata membawahkan akan menempatkan posisi pimpinan di atas sementara bawahannya di bawah, seperti komandan itu membawahkan sepuluh orang anak buah. Jadi, kalimatnya diubah menjadi: Dokter di rumah sakit itu membawahi beberapa orang perawat.

  14. 3. Kesejajaran (paralelisme) Kesejajaran atau paralelisme adalah terdapatnya unsur-unsur yang sama derajatnya atausepola contoh: 1. Setiap penyakit yang terjadi lebih baik dicegah daripada melakukan pengobatan. 2. Kegiatan penelitian ini meliputi pengumpulan, analisis, dan pemaparan hasil analisis data. Keparalelan kalimat pertama menggunakan verba berawalan di-.Kalimat kedua memiliki awalan di-. Begitu juga sebaliknya: Perbaikannya: 1. Lebih baik mencegah daripada mengobati. 2. Ketidaksesejajaran kalimat kedua adalahpengumpulan, analisis, dan pemaparan hasil analis data. Kata-kata tersebut harus disejajarkan menjadi pengumpulan, penganalisisan, dan pemaparan hasil analisis data.

  15. 4. Kelogisan Kelogisan adalah masuk akal atau berterima dengan akal sehat. Biasanya kalimat ini bernalar. Contoh: 1. Dahulu, sebelum sistem imunisasi ditemukan, penduduk mati akibat berbagai penyakit. 2. Dari beberapa studi menyimpulkan bahwa iklan rokok meningkatkan konsumsi melalui beberapa cara seperti menciptakan lingkungan yang mengangggap merokok sebagai sesuatu hal yang positif dan biasa, mengurangi motivasi perokok untuk berhenti dan mendorong anak-anak untuk merokok. Kalimat 1 Apa hubungannnya sistem imunisasi dengan kematian?Apakah sebelum sistem imun ditemukan penduduk mati. Jika penduduk mati,tentu manusia sekarang tidak ada. Maka dapat diperbaiki: Dahulu, sebelum sistem imunisasi ditemukan, banyak penduduk yang mati akibat berbagai penyakit.

  16. Kalimat 2 • Yang dapat menyimpulkan adalah manusia/penulis. Kalimat itu sebaiknya dipasifkan sehingga subjeknya tersembunyi. Di sini juga hadir kata kerja benefaktifyang menimbulkan pertanyaan: Konsumsi apa yang meningkat? Dari beberapa studi disimpulkan bahwa iklan rokok dapat meningkatkan konsumsi bagi perokok melalui beberapa cara, seperti menciptakan lingkungan yang mengangggap merokok sebagai sesuatu hal yang positif dan biasa, mengurangi motivasi perokok untuk berhent, dan mendorong anak-anak untuk merokok.

  17. 5. Kohesi dan Koherensi • Kohesi adalah keterkaitan antarunsur dalam struktur sintaksis atau struktur wacana yang ditandai antara lain konjungsi, penggulangan, penyulihan,dan pelesapan, seperti dia tetap belajar meskipun sudah mengantuk (KBBI, 2003: 57) • Koherensi adalah hubungan logis antara karangan atau antara kalimat dalam satu paragraf (KBBI, 2003: 579).

  18. 5.1 Kohesi dan koherensi di dalam kalimat Kohesi dan koherensinya terlihat melalui hubungan yang padu antara unsur-unsur pembentuknya di dalam kalimat. 1.Pada bagian berikut karya ini akan membahas tentang kesehatan kebersihan pribadi (Personal Hygiene). 2. Jika remaja memiliki komponen hideritas (keturunan) dan faktor konstitusi yang tidak mengembirakan, kemudian dipengaruhi oleh beberapa faktor yang berasal dari luar diri remaja tersebut yang ternyata tidak menggembirakan, maka sangat besar kemungkinan remaja memiliki kondisi yang merugikan kehidupannya. Kalimat 1 Pembahasannya tentang kesehatan kebersihan pribadi (Personal Hygiene). Setelah awalan me- (kata kerja transitif), langsung ditemukan objek

  19. .Kalimat 2 Jika remaja memiliki komponen hideritas (keturunan) dan faktor konstitusi yang tidak menggembirakan adalah klausa pertama yang berfungsi sebagai anak kalimat. Kemudian, dia meminta kehadiran induk kalimat, yaitu sangat besar kemungkinan remaja memiliki kondisi yang merugikan kehidupannya.

  20. Kohesi dan koherensi di dalam paragraf • Metode deduksi adalah metode pengembangan paragraf dengan meletakkan ide utamanya atau konsep pemikiran secara umum terbih dahulu pada bagian awal. Contoh Protein yang teras kromatin terdiri dari histon. Histon itu berupa butiran atau manik dan ADN melilit tiap manik. Lilitan ADN ini tidak longgar lepas seperti kabel melilit kumparan listri. Akan tetapi, membenam dilapisan luar histon sehingga ADN membina ikatan yang erat. Jika ADN akan melakukan aktifitas sel (sintesa protein atau membelah), lilitan itu akan lepas dari benamannya pada histon, berkat kehadiran enzim polimerase. Serentak dengan itu pilihan sejajar (Double helix) ADN lepas pula. Jika sel membelah pilinan “benang”, ADN kromatin akan merapat dan mandat sekali sehingga jadi pendek dan tebal (kromosom).

  21. 6. Kesatuan • Setiap kalimat yang dibuat harus membicarakan satu ide pokok atau gagasan yng sentral. Memecah kalimat yang panjang, contoh:Dari beberapa studi menyimpulkan bahwa iklan rokok meningkatkan konsumsi melalui beberapacara seperti menciptakan lingkungan yang mengangggap merokok sebagai sesuatu hal yang positif dan biasa, mengurangi motivasi perokok untuk berhenti dan mendorong anak-anak untuk merokok. Menjadi: Dari beberapa studi disimpulkan bahwa iklan rokok dapat meningkatkan konsumsi bagi perokok. Peningkatan konsumsi ini biasanya dilakukanmelalui beberapa cara. Cara-cara yang dapat dilakukan seperti menciptakan lingkungan yang mengangggap merokok sebagai sesuatu hal yang positif dan biasa, mengurangi motivasi bagi perokok, dan mendorong untuk tidak merokok.

  22. 7. Ketidakambiguan Ketidakambiguan maksudnya si pembaca dapat menangkap ide itu secara jernih dan tidak meragukan. Kalimat dalam karya ilmiah tidak boleh menimbulkan tafsiran yang ganda. Jika keambiguan terjadi, pikiran yang ada harus dijernihkan sehingga menimbulkan satu tafsiran, seperti kalimat berikut: Selain itu, didukung dari lingkungan sosial teman-teman yang baik sehingga kenakalan pada remaja tidak akan muncul. • Keambiguan terjadi pada: lingkungan sosial teman-teman yang baik. Apakah lingkungan sosialnya yang baik atau teman-temannya yang baik? Dipengaruhi oleh penggunaan kata yang berfungsi untuk menjelaskan keterangan. Maksudnya adalah lingkungan sosial berupa berupa teman-teman yang baik atau pergaulan yang baik. Redaksi kalimatnya menjadi: Selain itu, didukung oleh lingkungan sosial berupa teman-teman yang baiksehingga kenakalan pada remaja tidak akan muncul.

  23. 8. Ketepatan 8. Ketepatan Ketepatan adalah kesesuaian atau kecocokan pemakaian unsur-unsur yang membangun suatu kalimat sehingga terbentuk pengertian yang bulat dan pasti. Oleh karena itu, diperlukan pemakaian kata (pemilihan diksi yang tepat), Frase, dan idiom, seperti berikut ini: 1. Untuk menadapatkan kebersihan pribadi yang baik, seseorang akan rutin melakukan kebersihan kulit an rambut. Kata akan mengatakan sesuatu yang hendak terjadi, tetapi belum terjadi. Pada konteks kalimat itu akan terjadi kebersihan pribadi jika rutin melakukan kebersihan kulit dan rambut. Jadi, kata akan dipakai menyebabkan kalimat itu tidak logis. Pemakaian kata itu tidak tepat, sebaiknya diganti dengan kata harus.

  24. 9. Kehematan Kehematan ini harus dijaga supaya tidak terjadi pemborosan dalam pemakaian kosa kata. Pemborosan akan akn membuat kalimat itu menjadi sesuatu yang berlebih-lebihan. Pemborosan itu dapat dilihat seprti contoh kalimat beikut ini: Harus diakui bahwa sangat banyak sekali remaja mulai merkok akibat melihat iklan, apalagi yang diperankan oleh perempuan cantik dan pria yang gagah. Pemborosan kata dan makna terjadi terdapat pada: sangat banyak sekali remaja mulai merokok. Sebaiknya, kalimat ini diubah menjadi: Harus diakui bahwa sangat banyak remaja mulai merokok akibat melihat iklan, apalagi yang diperankan oleh perempuan cantik dan pria yang gagah.

  25. 9. EYD EYD sering dipadukan pemakaian tanda baca. Ejaan yang disempurnakan merupakan penuntun yang yang dipakai dalam bahasa tulis. Kesalahan pemakaian EYD dapat menyebabkan ketidakvalitan data yang diterima, seperti: 1. Pasien itu sedang diperiksa oleh Dr. H. Idris Salim. Kalimat 1 Penulisan gelar dr ‘dokter’ (S-1)seharusnya dengan dr. (d kecil dan r kecil). Penulisan gelar ini sengaja dibedakan dengan penulisan Dr ‘doktor’ (S-3). Kalimat itu dapat diubah: Pasien itu sedang diperiksa oleh dr. H. Idris Salim.

  26. Penulisan kata-kata Ilmiah • Penulisan kata asing ke bahasa Indonesia • Bahasa Asing Bahasa Indonesia • Marasmus (yunani) Marasmus • Endometriosis Endometriosis • Endocrine (Yunani) Endokrin • Hysteria (Yunani) histeria • Jika kata-kata dari bahasa yang sudah disesuaikan dengan kaidah bahasa Indonesia, penulisannya tidak perlu dimiringkan. Namun, jika belum disesuaikan, penulisannya harus dimiringkan: • Bayi itu menderita penyakit hysteria.

  27. Penulisan Kata-kata yang Tidak Baku Pemakaian kata kata yang tidak baku masih banyak dijumpai dalam tulisan-tulisan ilmiah. Pemakaian kata-kata ini harus dihindari karena mengganggu kebakuan dan penggunaan ragam standard dalam penulisan karya ilmiah. Kata-kata t ersebut, seperti diagnosis, mengonsumsi, hipotesis, analisis, dll. Ternyata wanita yang mengkonsumsi daging dengan kategori jumlah terbanyak (daging saja, daging merah lainnya daging ham) meningkat risikonya 80% hingga 100% untuk menderita Endometriosis. Kata mengkonsumsi terjadi kesalahan kaidah pembentukan yang menyebabkan kata itu tidak baku. Kesalahan pembentukan awalan me-(N) ditambah denagan huruf KPTS setelah itu Vokal maka huruf KPTS-nya luluh, seperti men- + tulis = menulis, me- + posisi = memosisi, men- + sukseskan = menyukseskan. Kata mengkonsumsi yang baku berdasarkan pembentukan kata tersebut adalah mengonsumsi

More Related