1 / 12

MEMBACA RELASI ANTARA KEPEMIMPINAN DAN PENYELESAIAN MASALAH KEBANGSAAN

MEMBACA RELASI ANTARA KEPEMIMPINAN DAN PENYELESAIAN MASALAH KEBANGSAAN. Disampaikan dalam Seminar Nasional yang diselenggarakan oleh BEM Fisipol UMY dan Komisariat HMI MPO Fisipol UMY Yogyakarta. Studi elit .

seven
Download Presentation

MEMBACA RELASI ANTARA KEPEMIMPINAN DAN PENYELESAIAN MASALAH KEBANGSAAN

An Image/Link below is provided (as is) to download presentation Download Policy: Content on the Website is provided to you AS IS for your information and personal use and may not be sold / licensed / shared on other websites without getting consent from its author. Content is provided to you AS IS for your information and personal use only. Download presentation by click this link. While downloading, if for some reason you are not able to download a presentation, the publisher may have deleted the file from their server. During download, if you can't get a presentation, the file might be deleted by the publisher.

E N D

Presentation Transcript


  1. MEMBACA RELASI ANTARA KEPEMIMPINAN DAN PENYELESAIAN MASALAH KEBANGSAAN Disampaikan dalam Seminar Nasional yang diselenggarakan oleh BEM Fisipol UMY dan Komisariat HMI MPO Fisipol UMY Yogyakarta

  2. Studi elit • Mazhab klasik; Vilfredo Pareto, Aristoteles, kelompok yang memiliki keunggulan fisik, dan psikologis • Mazhab modern, Gaetano Mosca, Robert Mitchel, Sussanne Keller, kelompok yang mampu menempatkan positioning yang lebih baik dalam merepresentasikan masyarakat • Mazhab Islam, Sunni, Syi’ah, kelompok yang memiliki keunggulan psikologis (dzurriyat) dan etnis

  3. Pemaknaan • Konsepsi kepemimpinan yang kuat, dalam konteks budaya Asia, seringkali dikaitkan dengan tradisi legitimasi berbasis tradisonal, karismatikdanmiliteristik • Sejarah Asia menunjukkan kuatnya karakter kepemimpinan di Asia, berhubungan negatif dengan pola demokratisasi • Sukarno, Unu, Gamal Abdul Nasser, Jawaharal Nehru, Ferdinand Marcos, Lee Kuan Yew, LEBIH sebagai regim Otoriter daripada regim yang demokratis

  4. ApakahmungkinmembuatKepemiminan yang kuatdi Asia denganberbasikanasasdemokrasidankolegialitas? Bagaimana membangun transformasi kepemimpinan yang kuat, namun menjunjung nilai-nilai demokrasi dan kolegialitas

  5. Relasi Antara Sistem Politik dan Kapasitas Pribadi Dalam Membangun Kepemimpinan

  6. Relasi Antara Kapasitas Pribadi dan Pengalaman Kepemimpinan

  7. Pendefinisian Masalah Dalam Transisi Politikdi Asia • Iran, 1979, krisis identitas akibat teralienasi budaya Syiah, muncul elit kharismatik Ayatollah Khoemeini, danmelahirkanpelembagaanpolitikdemokrasi • Pakistan, 1989, krisis politik dan ekonomi akibat tekanan eksternal, muncul elit kharismatik yang menggandalkan politik dinasti,Benazir Bhutto, danbelummenghasilkanpelembagaanpolitikdemokrasi • Filipina, 1988, krisis politik nasional akibat kemunduran ekonomi, muncul elit Cory Aquino yang menggantikan posisi politik Ninoy Aquino, danbelummenghasilkanpelembagaanpolitikdemokrasi • Indonesia, 1998, krisis nasional akibat tekanan ekonomi internasional, muncul elit kharismatik Gus Dur, menghasilkanpelembagaanpolitikdemokrasinamundengansirkulasielit yang terbatas. (loelagiloelagi)

  8. Derajat Masalah • Mensitir Donald K. Emmerson, masalahkepemimpinandi Indonesia merujukkepada 2 kompetensibesar; • Solidarity maker, terkaitdenganupayamembangunintegritasnasional yang kokoh • Administrative maker, terkaitdengankapasitasmengelolasumberdayaalam yang tersebar

  9. Kapasitas yang dibutuhkan • Solidarity maker membutuhkan keunggulan psikologis,karisma, dan kenegarawanan. • Mengambil contoh Ayatollah Khoemeini, pemimpin ini dilahirkan, dijaga, dan diberikan ruang oleh masyarakat, sehingga kemudian mendapatkan posisi yang sangat kuat dalam tradisi syiah sebagai Marja’I Taklid. • Bagaimana dengan para elit dengan kompetensi solidarity maker kita?

  10. Solidarity maker vs trouble Maker • Elit-elit yang memilikikompetensisebagai solidarity maker seringkalijustruberperansebagai trouble maker. • Elit-elit solidarity maker masihmenempatimaqampolitikThariqat, harusnyamenempatiruanghakekatdanmakrifat, dalambentukmasihberusahamencarijatidiri, berevolusi, masihberkeinginanmemasukiwilayah low politic sehinggapilihankebijakannnyabelummencapaiderajat “wisdom”, namunmasihmenempatiposisi “policy”.

  11. Kapasitas yang dibutuhkan • Administrative maker membutuhkankeunggulantehnisdanjaringan, dinamis, negosiatorulung, konseptor. • Mengambilcontoh Fidel Ramos, yang mampumeningkatkanderajatperekonomian Filipina setelahdalam 10 tahunterakhirterpurukdenganpembuatankebijakaninternasionalisasikarakterbudayafilipina, meskipundalamtataran minimal; denganmeneruskankebijakanInggrisasibahasafilipina. • Ataukebijakan Mahathir Muhammad, untukmerubahtradisi jam waktu. Jam waktudimalaysiamendahului jam waktudiSingapura, bahkan Indonesia. • Dalambentukkonseptor, kapasitas administrative make harusmampumerubah “mental block” masyarakat, darimasyarakat yang tidakberdayamenjadimasyarakat yang berdaya. • Bagaimanadenganparaelitdengankompetensi administrative maker kita?

  12. Administrative Maker vs Corruptor maker • Administrative maker cenderung didefinisikan dengan pengalaman di birokrasi, dan aktivitas di belakang meja, di bawah meja dan bukan di atas meja. • Administrative maker bukan menjadi penjaga birokrasi yang rasional dan effektif, namun justru menjadi penjaga mental korupsi

More Related